Selasa, 20 September 2011

“Memperluas Faham Agama”

Oleh : Charles Mangunsong

Terbit pada Buletin Jum'at, Minggu ke 2 Syawal 1432H/2011M. Kp. Suarau. Kab. Dharmasraya.

Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Mudahkanlah dan jangan kamu mempersusahkannya, serta gembirakanlah dan jangan kamu membikin orang lari” ( H.R. Bukhari dan Muslim dari Anas )

Sabda Beliau lagi,

“ Sesungguhnya agama itu ringan dan tiada sesorang yang meberat-beratkan agama, melainkan ia dikalahkan oleh agama. Maka hendaklah kamu sekalian menjalankan agama itu dengan lurus, berdekat-dekat dan bergembiralah. Bermohonlah pertolongan pada waktu pagi dan petang dan sebagian dari waktu malam”( HR. Bukhari dan Abi Hurairah )

Menilik dari dua hadits di atas, teranglah bahwa agama itu ringan dan keringanan agama itu, sebab hukum Islam itu dapat berubah-ubah dengan mengingat keadaan orang, dan agama Islam itu tiada mengikat faham. Untuk menjelaskan tentang hal ini kita ambil sebuah contoh, bahwa agam Islam mewajibkan shalat dengan berdiri, namun bagi orang yang tak kuasa untuk berdiri diperkenankan baginya shalat dengan duduk bahkan berbaring. Satu contoh lain agama Islam mewajibklan untuk shlat jum’at bagi kaum muslimin, namun ketika sakit atau turun hujan yang sangat lebat maka boleh baginya tidak pergi shalat jum’at, dan banyak lagi yang lainnya.

Agama Tiada Mengikat Faham.

Kalau kita kembali kepada pokok-pokok agam Islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadits nabi, kita akan menjumpai beberapa kalimat-kalimat yang diantaranya ada yang “mujmal” dan ada pula yang “ Musytarak”, artinya kalimat yang boleh difahami dengan macam-macam faham dan kalimat-kalimat yang mengandung dua arti,

Seperti pada kalimat “ Aulaamastumunnisaa”. Kalimat “laamisa” dapat diartikan persentuhan dan boleh juga diartikan bersetubuh menurut arti kinayah.

Perluasan faham di dalam agama itu harus dengan syarat-syarat dan bahan-bahan yang telah ditetapkan di dalam agama. Sekali-kali tiada boleh orang memahami agama menurut hawa nafsunya atau sekehendak hatinya.

Menurut keterangan alim ulama, maka perluasan itu suatu pemberian anugrah dari Allah. Oleh sebab itu kita harus mencari anugrah itu dan menjalankannya dengan yang seksama.

Perlu kita ketahui, bahwa yang harus kita perluas itu “ Faham Agama” bukan memperluas agama, karna agama itu sudah sempurna, tiada boleh diperluas apalagi mempersepitnya.

Kalau kita selidiki kepada orang-orang yang menjalan perintah agama dengan kesukaran dan kesempitan itu, tentulah kita akan terdapat bahwa segala kesukaran dan kesempitan itu tiada dari perintah agama, melainkan timbul dari dirinya sendiri, yang disebabkan dari sempitnya faham, sehingga ia tiada suka menerima anugrah Allah Ta’ala tersebut.

Supaya lebih jelas, disini di misalkan, :

1. Agama melarang ummat islam memakan bangkai dan semua binatang yang mati tidak disembelih atas nama Allah.

Bagi orang yang memahami agama secara luas, ketika dia membeli daging di pasar, maka cukup baginya mengetahui kalau si penjual itu adalah orang Islam dan biasanya menyembelihnya atas nama Allah, dan ia pun tiada ragu-ragu memakan daging itu. Tetapi bagi orang yang sempit faham agamanya, hal ini justru mengekang dirinya sendiri akibat kepicikan ilmunya terhadap faham agam, ia harus menyelidiki dari mana sapinya? Siapa penyembelihnya? dengan atas nama Allah atau bukan menyembelihnya? Sapi curian atau bukan? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang akan timbul dalam benak nya yang akhirnya ia tidak jadi membeli daging karna syak yang ditimbulkan oleh kesempitan dirinya sendiri.

Begitu juga ketika Ia sedang berpergian, ketika ia lapar dan mampir kerumah makan, juga harus memikirkan banyak hal pertanyaan yang timbul dalam benaknya tentang nasi dimasak pake air apa, ikan nya makannya apa, dagingnya sapi halal atau haram, airnya berbajis atau bukan dan lain-lainnya, yang akhirnya ia tak jadi makan karena kepicikan faham agamanya.

2. Hal Pakaian.

Hadits Nabi SAW.

“ Barang siapa yang menyerupai kau, maka dia termasuk golongan kaum itu”. ( H.R. Abu Daud dari Ibnu Umar )

Meskipun hadits ini Dho’if atau lemah, tetapi bagi orang yang sempit faham, lalu Ia tidak mau memakai dasi, karena menyerupai orang bukan islam.

Kalai perkara ini kita masuk-masukkan, tentulah kitatidak akan dapat berpakaian, karena “Jas” pun dipakai juga oleh orang-orang bukan Islam. Demikian pula celana, baju, ikat pinggang, sepatu, dan lain-lainnya. Padahal dalam perkara ini agama tidak member bentuk yang pasti, terserah kesukaan orang yang mau memakainya asal dapat menutup aurat dan pantas di lihat.

Di dalam agama, perkara itu hanya diberi batasan bagi laki-laki tidak diperbolehkan memakai sutera, atau pakaian wanita, dan begitu pula sebaliknya.

Di atas tadi sudah dijelaskan, bahwa agama tidak mengikat faham, supaya jangan mendatangkan kekeliruan, maka perlua kiranya diterangkan bagian-bagian faham agama yang boleh diperluas.

Agama itu boleh diiringkan menjadi dua bagian, yaitu bagia Pokok dan Bagian Furu’. Bagian pokok ialah yang berhubungan dengan kepercayaan I’tiqad. Maka bagian ini harus taslim ( harus diterima ). Bagian kedua Furu’ ialah yang berhubungan dengan ibadah, mu’ammalah, hudud, dan lain-laian. Dalambagian ini diperbolehkan memperkuas faham dengan menggunakan Qiyas dan lain-lainnya.

Mari Kembali Ke Masjid

Terbit pada Buletin Jum'at KUKERTA, Minggu ke 1 Syawal 1432H/2011 M. Kp.Surau. Kab. Dharmasraya.

Seorang pakar islam kontemporer Syeikh Said Hawa pernah mengatakan; Inna ’ashrana hadza mamlu-un bi Asy Syahawati wa asy-Syubuhati wa Al Ghoflah (Sesungguhnya kurun kita ini diliputi oleh suasana yang mengundang nafsu syahwat, kebimbangan terhadap kebenaran dan melalaikan kehidupan akhirat). Menurut beliau, benteng pertahanan terakhir ummat dalam memagari jati dirinya dari kekacauan polusi zaman adalah keluarga dan masjid.

Kesederhanaan manajeman Nabi dalam mengelola masjid telihat antara lain sewaktu beliau shalat, usai shalat beliau selalu menghadap jamaah untuk mengecek barangkali ada sebagian jamaah yang berhalangan hadir. Pada suatu ketika salah seorang jamaah inti tidak hadir dalam shalat, beliau bertanya , Mana si Fulan ?. Salah seorang makmum menjawab, si Fulan sedang sakit. Kemudian beliau mengunjungi Fulan di rumahnya. Itu menunjukkan bahwa Rasulullah Saw, sangat perhatian kepada jamaahnya. Perbuatan beliau sejatinya diteladani pengurus dan imam masjid.

Selesai shalat Jumat, dari atas mimbar Rasulullah Saw, selalu menanyakan jamaahnya, Siapakah yang hari ini ada kesulitan atau kekurangan ? Apabila ada yang mengangkat tangannya (sebagai tanda jamaah itu sedang dalam kesulitan atau kekurangan), Nabi memintanya untuk menjelaskan kesulitan yang dihadapinya dan kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah diantara jamaah yang telah hadir diberi keluasan rizki oleh Allah ?”.

Begitulah cara Nabi, sehingga yang mempunyai kelebihan dapat meringankan beban yang kesulitan. Jika cara ini diterapkan maka masalah kemiskinan ummat setiap minggu akan bisa dipecahkan. Betapa bagusnya masjid-masjid di tanah air yang jumlahnya ratusan ribu dalam mengatasi krisis ummat jika menerapkan manajemen sederhana Rasulullah Saw tersebut. Dan semestinya ummat islam yang merupakan bagian terbesar bangsa ini akan hidup sejahtera dan damai.

Kurang Kesadaran

Kurang kesadaran kembali ke Mesjid membawa kepada keterpurukan ummat yang disebabkan oleh beberapa point berikut:

Pertama, Ada kecenderungan ummat Islam tidak mengamalkan Al-Quran dan As Sunnah secara murni dan teguh pendirian. Mereka sering tidak melibatkan Allah dalam pengambilan keputusan penting. Baik menyangkut persoalan individu, keluarga dan masyarakat (QS. Thaha : 124).

Mengomentari ayat ini Ibnu Katsir berkata; “Barangsiapa yang berpaling dari ketetapan Allah dan atau sengaja melupakannya, akan menemui kehidupan yang serba sulit (ma’isyatan dhonkan), tidak merasakan ketenangan dan kelapangan dada disebabkan kesesatannya, sekalipun secara lahiriyah sejahtera, bisa berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuka hatinya. Tetapi jiwanya goncang, bingung dan diliputi keragu-raguan.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir II, hal. 479).

Kedua, Ummat Islam meyakini bahwa Rasulullah Saw sebagai contoh terbaik, tetapi mereka meneladaninya (ta-assi) hanya dalam mulut dan tidak mempraktekkannya dalam perilaku sehari-hari di tempat kerja, kantor, sekolah, pasar, kebun atau di tempat yang lain. Sekalipun secara serimonial/acara-acara resmi, dan upacara peringatan maulid ummat islam melakukannya secara serempak tetapi keagungan pribadi (syakhshiyyah) Rasulullah masih belum sepenuhnya di teladani. Kaya dalam upacara, tetapi miskin dalam pengamalan. Untuk mengantisipasi kondisi di atas, ummat Islam memiliki tanggung jawab moral membantu negara keluar dari hal-hal buruk dan merusak moral bangsa Indonesia.

Lihatlah jumlah jamaah shalat lima waktu terutama shubuh, diperparah dengan shaf (barisan shalat) yang tidak rapi. Apalagi jika kita mencermati kualitas komunikasi yang dibangun antara jamaah usai menunaikan shalat, sungguh masih belum berjalan sesuai harapan. Dari sini bisa dievalusi/diteliti ulang betapa kualitas ummat dalam meneladani Rasulullah Saw ketika di masjid masih jauh ketinggalan.

Pada zaman Nabi Muhammad Saw, masjid memiliki banyak fungsi. Maka ketika beliau hijrah ke Madinah pertama kali yang didirikan adalah masjid. Selain sebagai tempat ibadah, juga menimba ilmu, tempat mempersaudarkan (ta-akhi) suku yang saling bermusuhan selama berabad-abad, tempat berbagi sesama, penggalian dana dan pendistribusiannya, tempat penggemblengan calon pemimpin (kawah condrodimuko), tempat bermusyawarah dan tempat mewujudkan kesejahteraan bersama.

Oleh karena itu tugas imam shalat tidak sekedar memimpin shalat jamaah, tetapi mendidik, mengayomi dan mengarahkan ummat dalam segala aspek kehidupannya. Maka, seorang imam dan jamaah inti adalah orang yang dapat dipercaya dan terbaik (level inti) dari ummat. Imam masjid dituntut memiliki kemampuan manajerial yang tinggi dan memiliki komitmen untuk mengurbankan tenaga dan waktunya untuk memakmurkan masjid. Dengan standar demikian, dia mampu melaksanakan tanggungjawabnya dengan sebaik-baiknya. (QS. at- Taubah (9) : 17).

Makmurkanlah Masjid

Memakmurkan masjid berarti membangun, memperkuat bangunannya dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak (secara material), dan memakmurkannya dalam aspek immaterial (moril), mendirikan shalat, berdzikir, mencari ilmu dan aktifitas ibadah lain yang merupakan tujuan utama didirikannya. (QS. an-Nur : 36), (Tafsir al-Ahkam, Ali Ash Shobuni II). Abu Bakar Al Jashshash mengatakan, memakmurkan masjid itu mengandung dua pengertian yaitu : Berkunjung dan berdiam di masjid. Membangun dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak. I’tamaro yang berarti ziarah, berkunjung. Misalnya kata ‘umrah, berarti ziarah ke Baitullah. (Ahkamul Quran, Al Jashshash, II : 87).

“Barangsiapa yang mencintai masjid, maka Allah mencintainya,” [HR. Thabrani].

“Barangsiapa yang mendirikan masjid karena Allah sekalipun sebesar sarang burung, maka Allah akan mendirikan sebuah rumah untuknya di surge.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah].

Secara jujur kita mengakui betapa masjid-masjid di tanah air mengalami kemandekan. Belum memainkan fungsi dan peranannya secara maksimal. Masjid tidak berdaya mengatasi masalah sosial kemasyarakatan. Orang meminta-minta di sekitar masjid, anak-anak jalanan, kenakalan remaja, belum bisa diantisipasi secara signifikan. Betapa keteladanan Rasulullah Saw, di masjid yang mempunyai kandungan manajeman tingkat tinggi, baru sebatas sebagai bahan diskusi, seminar dan forum-forum ilmiah.

Salah satu fungsi masjid sebagai baitul mal, belum bisa diwujudkan, sehingga para pengemis di sekitarnya semakin meningkat jumlahnya. Sangat pertentangan dengan bangunan bangunan masjid yang megah, dengan pemandangan manusia yang berpakaian compang camping di sekelilingnya. Keindahan bangunannya tidak diimbangi dengan kesejahteraan dan kemakmuran jamaahnya.

Beberapa organisasi masyarakat Islam pernah mengusung “Gerakan back to masjid”. Hidayatullah beberapa pernah meluncurkan 1.000 dai di seluruh kabupaten dan provinsi di Indonesia perlu mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah dan berbagai potensi/elemen bangsa, khususnya ummat Islam. Sebagai usaha mengentaskan krisis yang menjerat bangsa. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) juga meluncurkan program dai-dai pasca-sarjana dan doctoral dan mengisi masjid-masjid.

Masjid yang akan ditangani oleh para dai di seluruh tanah air tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah shalat, tetapi sebagai pusat kegiatan pendidikan, ekonomi, sosial budaya, informasi dunia Islam. Dengan demikian memakmurkan masjid memiliki fungsi yang sangat luas.

Pendirian Sekolah Terpadu, TPA/TPQ, perpustakaan multi media (al-Maktabah Asy-Syamilah), pembinaan remaja masjid, koperasi, poliklinik, unit penggalian dana dan pendistribusiannya, konsultasi, bantuan hukum, bursa tenaga kerja, sekolah, kantor, warnet, atau bank syariat adalah pengembangan dari fungsi penting sistem manajemen masjid. Mari kita kembali ke masjid, semoga di dalamnya kita menemukan kedamaian, kesejahteraan, persaudaraan yang hakiki yang selama ini kita dambakan. Juga menyelesaikan persoalan sosial diantara kita semua.

Wallahu a’lam.

Mari Kembali Ke Masjid

Terbit pada Buletin Jum'at KUKERTA, Minggu ke 1 Syawal 1432H/2011 M. Kp.Surau. Kab. Dharmasraya.

Seorang pakar islam kontemporer Syeikh Said Hawa pernah mengatakan; Inna ’ashrana hadza mamlu-un bi Asy Syahawati wa asy-Syubuhati wa Al Ghoflah (Sesungguhnya kurun kita ini diliputi oleh suasana yang mengundang nafsu syahwat, kebimbangan terhadap kebenaran dan melalaikan kehidupan akhirat). Menurut beliau, benteng pertahanan terakhir ummat dalam memagari jati dirinya dari kekacauan polusi zaman adalah keluarga dan masjid.

Kesederhanaan manajeman Nabi dalam mengelola masjid telihat antara lain sewaktu beliau shalat, usai shalat beliau selalu menghadap jamaah untuk mengecek barangkali ada sebagian jamaah yang berhalangan hadir. Pada suatu ketika salah seorang jamaah inti tidak hadir dalam shalat, beliau bertanya , Mana si Fulan ?. Salah seorang makmum menjawab, si Fulan sedang sakit. Kemudian beliau mengunjungi Fulan di rumahnya. Itu menunjukkan bahwa Rasulullah Saw, sangat perhatian kepada jamaahnya. Perbuatan beliau sejatinya diteladani pengurus dan imam masjid.

Selesai shalat Jumat, dari atas mimbar Rasulullah Saw, selalu menanyakan jamaahnya, Siapakah yang hari ini ada kesulitan atau kekurangan ? Apabila ada yang mengangkat tangannya (sebagai tanda jamaah itu sedang dalam kesulitan atau kekurangan), Nabi memintanya untuk menjelaskan kesulitan yang dihadapinya dan kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah diantara jamaah yang telah hadir diberi keluasan rizki oleh Allah ?”.

Begitulah cara Nabi, sehingga yang mempunyai kelebihan dapat meringankan beban yang kesulitan. Jika cara ini diterapkan maka masalah kemiskinan ummat setiap minggu akan bisa dipecahkan. Betapa bagusnya masjid-masjid di tanah air yang jumlahnya ratusan ribu dalam mengatasi krisis ummat jika menerapkan manajemen sederhana Rasulullah Saw tersebut. Dan semestinya ummat islam yang merupakan bagian terbesar bangsa ini akan hidup sejahtera dan damai.

Kurang Kesadaran

Kurang kesadaran kembali ke Mesjid membawa kepada keterpurukan ummat yang disebabkan oleh beberapa point berikut:

Pertama, Ada kecenderungan ummat Islam tidak mengamalkan Al-Quran dan As Sunnah secara murni dan teguh pendirian. Mereka sering tidak melibatkan Allah dalam pengambilan keputusan penting. Baik menyangkut persoalan individu, keluarga dan masyarakat (QS. Thaha : 124).

Mengomentari ayat ini Ibnu Katsir berkata; “Barangsiapa yang berpaling dari ketetapan Allah dan atau sengaja melupakannya, akan menemui kehidupan yang serba sulit (ma’isyatan dhonkan), tidak merasakan ketenangan dan kelapangan dada disebabkan kesesatannya, sekalipun secara lahiriyah sejahtera, bisa berpakaian, bertempat tinggal, makan sesuka hatinya. Tetapi jiwanya goncang, bingung dan diliputi keragu-raguan.” (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir II, hal. 479).

Kedua, Ummat Islam meyakini bahwa Rasulullah Saw sebagai contoh terbaik, tetapi mereka meneladaninya (ta-assi) hanya dalam mulut dan tidak mempraktekkannya dalam perilaku sehari-hari di tempat kerja, kantor, sekolah, pasar, kebun atau di tempat yang lain. Sekalipun secara serimonial/acara-acara resmi, dan upacara peringatan maulid ummat islam melakukannya secara serempak tetapi keagungan pribadi (syakhshiyyah) Rasulullah masih belum sepenuhnya di teladani. Kaya dalam upacara, tetapi miskin dalam pengamalan. Untuk mengantisipasi kondisi di atas, ummat Islam memiliki tanggung jawab moral membantu negara keluar dari hal-hal buruk dan merusak moral bangsa Indonesia.

Lihatlah jumlah jamaah shalat lima waktu terutama shubuh, diperparah dengan shaf (barisan shalat) yang tidak rapi. Apalagi jika kita mencermati kualitas komunikasi yang dibangun antara jamaah usai menunaikan shalat, sungguh masih belum berjalan sesuai harapan. Dari sini bisa dievalusi/diteliti ulang betapa kualitas ummat dalam meneladani Rasulullah Saw ketika di masjid masih jauh ketinggalan.

Pada zaman Nabi Muhammad Saw, masjid memiliki banyak fungsi. Maka ketika beliau hijrah ke Madinah pertama kali yang didirikan adalah masjid. Selain sebagai tempat ibadah, juga menimba ilmu, tempat mempersaudarkan (ta-akhi) suku yang saling bermusuhan selama berabad-abad, tempat berbagi sesama, penggalian dana dan pendistribusiannya, tempat penggemblengan calon pemimpin (kawah condrodimuko), tempat bermusyawarah dan tempat mewujudkan kesejahteraan bersama.

Oleh karena itu tugas imam shalat tidak sekedar memimpin shalat jamaah, tetapi mendidik, mengayomi dan mengarahkan ummat dalam segala aspek kehidupannya. Maka, seorang imam dan jamaah inti adalah orang yang dapat dipercaya dan terbaik (level inti) dari ummat. Imam masjid dituntut memiliki kemampuan manajerial yang tinggi dan memiliki komitmen untuk mengurbankan tenaga dan waktunya untuk memakmurkan masjid. Dengan standar demikian, dia mampu melaksanakan tanggungjawabnya dengan sebaik-baiknya. (QS. at- Taubah (9) : 17).

Makmurkanlah Masjid

Memakmurkan masjid berarti membangun, memperkuat bangunannya dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak (secara material), dan memakmurkannya dalam aspek immaterial (moril), mendirikan shalat, berdzikir, mencari ilmu dan aktifitas ibadah lain yang merupakan tujuan utama didirikannya. (QS. an-Nur : 36), (Tafsir al-Ahkam, Ali Ash Shobuni II). Abu Bakar Al Jashshash mengatakan, memakmurkan masjid itu mengandung dua pengertian yaitu : Berkunjung dan berdiam di masjid. Membangun dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak. I’tamaro yang berarti ziarah, berkunjung. Misalnya kata ‘umrah, berarti ziarah ke Baitullah. (Ahkamul Quran, Al Jashshash, II : 87).

“Barangsiapa yang mencintai masjid, maka Allah mencintainya,” [HR. Thabrani].

“Barangsiapa yang mendirikan masjid karena Allah sekalipun sebesar sarang burung, maka Allah akan mendirikan sebuah rumah untuknya di surge.” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah].

Secara jujur kita mengakui betapa masjid-masjid di tanah air mengalami kemandekan. Belum memainkan fungsi dan peranannya secara maksimal. Masjid tidak berdaya mengatasi masalah sosial kemasyarakatan. Orang meminta-minta di sekitar masjid, anak-anak jalanan, kenakalan remaja, belum bisa diantisipasi secara signifikan. Betapa keteladanan Rasulullah Saw, di masjid yang mempunyai kandungan manajeman tingkat tinggi, baru sebatas sebagai bahan diskusi, seminar dan forum-forum ilmiah.

Salah satu fungsi masjid sebagai baitul mal, belum bisa diwujudkan, sehingga para pengemis di sekitarnya semakin meningkat jumlahnya. Sangat pertentangan dengan bangunan bangunan masjid yang megah, dengan pemandangan manusia yang berpakaian compang camping di sekelilingnya. Keindahan bangunannya tidak diimbangi dengan kesejahteraan dan kemakmuran jamaahnya.

Beberapa organisasi masyarakat Islam pernah mengusung “Gerakan back to masjid”. Hidayatullah beberapa pernah meluncurkan 1.000 dai di seluruh kabupaten dan provinsi di Indonesia perlu mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah dan berbagai potensi/elemen bangsa, khususnya ummat Islam. Sebagai usaha mengentaskan krisis yang menjerat bangsa. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) juga meluncurkan program dai-dai pasca-sarjana dan doctoral dan mengisi masjid-masjid.

Masjid yang akan ditangani oleh para dai di seluruh tanah air tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah shalat, tetapi sebagai pusat kegiatan pendidikan, ekonomi, sosial budaya, informasi dunia Islam. Dengan demikian memakmurkan masjid memiliki fungsi yang sangat luas.

Pendirian Sekolah Terpadu, TPA/TPQ, perpustakaan multi media (al-Maktabah Asy-Syamilah), pembinaan remaja masjid, koperasi, poliklinik, unit penggalian dana dan pendistribusiannya, konsultasi, bantuan hukum, bursa tenaga kerja, sekolah, kantor, warnet, atau bank syariat adalah pengembangan dari fungsi penting sistem manajemen masjid. Mari kita kembali ke masjid, semoga di dalamnya kita menemukan kedamaian, kesejahteraan, persaudaraan yang hakiki yang selama ini kita dambakan. Juga menyelesaikan persoalan sosial diantara kita semua.

Wallahu a’lam.

Idul Fitri – Hari Kemenangan



Oleh : Charles Mangunsong

Terbit pada Buletin Jum'at Minggu Ke 4 Ramadhan 1430 H/2011. Kp.Surau.Kab. Dharmasraya

Dihari-hari pada minggu akhir bulan ramadhan, dimana-mana kita bersama-sama menyaksikan sebuah fenomena tentang pindahnya kegiatan ummat dari masjid ke pasar, ke terminal, ke stasiun, dan ke bandara. Itulah gambaran ummat sekarang, bahwa lebaran diartikan sebagai mudik, beli baju baru dan makanan-makanan yang serba mewah.

Lebaran tidaklah sama dengan idul fitri. Lebaran adalah sebuah tradisi yang boleh dilakukan oleh siapapun. Berpuasa atau tidak berpuasa, mau beribadah atau tidak mau beribadah semuanya boleh ikut lebaran. Tatapi bukan berarti semua orang bisa merayakan idul fitri. Sebab, setiap sesuatu yang kita kerjakan pasti ada akibat yang akan kita terima.

Sebuah cerita, pada suatu sore ada seorang dokter gigi yang langsung mecabut gigi si pasien tanpa membiusnya terlebih dahulu. Yang terjadi adalah si pasien menjerit sekuat-kuatnya karna kesakitan. Karna mendengar jeritan itu akhirnya tiga orang pasien yang sedang duduk menunggu diruang tunggu jadi takut dan pergi. Setelah selesai, si pasien bertanya biaya pengobatannya kepada dokter, sang dokter langsung menjawab 200.000. si pasien terkejut dan berkata bahwa biaya pengobatan terlalu mahal, karna biasanya hanya 50.000. Sang dokter kemudian berkata. Benar…! Biasanya memang 50.000 , tapi siapa yang suruh anda berteriak, gara-gara anda pasien yang tiga orang lagi jadi kabur.

Pembaca Yang Budiman…!
Cerita ini ingin menyampaikan pesan singkat kepada kita semua, bahwa selalu ada ongkos ( akibat ) dari apa yang kita lakukan. Intinya berpuasa atau tidak berpuasa, beribadah atau tidak beribadah semua yang kita lakukan mempunyai akibat dari apa yang kita lakukan. Seperti si pasien yang harus membayar biaya pengobatan empat kali lipat akibat dia hanya menjerit yang menyebabkan pasien yang lain menjadi pergi semuanya.

Idul Fitri….. Untuk kembali kepada fitrah, kita memperhatikan penggalan ayat 185 dari surat Al-Baqarah berikut ini :

" ..dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.QS.2:185

Dari cuplikan ayat di atas, ada 4 hal yang perlu kita perhatikan.
1. Walitukmilul 'iddata, "Hendaklah kamu menyempurnakan bilangan puasamu", ini berarti kita diperintahkan untuk menyempurnakan bilangan puasa sebulan penuh yang berkisar antara 29 dan 30. Ketentuan jumlah hari berpuasa sering terjadi perbedaan, yang akhirnya menyakut kepada jatuhnya 1 syawal, ( Hari Raya Idul Fitri ).

Dalam hal ini nabi berpesan :

" Faijagh talakhtum fa'alaikum bissawadil a'zhom ma'al haqqi wa ahlihi"

"Jika kamu berbeda pendapat, maka ikutlah kepada golongan yang terbanyak, benar dan ahlinya". Teruntuk masyarakat awam,ikut sajalah dengan Depertemen Agama, yang punya ahli Rukyatul hilal dan ahli Hisab dari berbagai ormas islam, yakni MUI, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Al-Wasliyah, dll. Di satu sisi kita juga harus menghormati mereka yang menetapkan 1 Syawal berbeda dengan Departemen Agama. Maka sempurnakanlah jumlah hari bilangan puasamu dalam artian sempurna melaksanakan puasa satu bulan penuh dan sempurna semangat juang puasa walaupun ramadhan telah berlalu.

2. Walitukabbirullaha, "Hendaklah kamu mengagungkan Allah " Tuntutan yang kedua setelah perintah menyempurnakan bilangan puasa adalah mengangungkan Allah. Yaitu Takbiran dimalam idul firti, yang bisa dilakukan di rumah, di masjid, sendiri, beramai-ramai, dan berpawai keliling Nagari, dengan syarat harus tertib dan tidak mengganggu arus lalu lintas. Terutama di kota-kota. Prakteknya yang terjadi adalah sering terjadi perang mercun, tembak-tembakan oleh anak-anak, bahkan membuat arus lalu lintas menjadi macet.

Pembaca Yang Budiman…!

Perintah yang kedua ini adalah mengangungkan Allah, dengan kalimat takbir, tahmid, tahlil dan tasbih di malam Idul Fitri. Hendaklah kita jadikan ini menjadi motivasi besar dalam kehidupan kita. Seperti Bung Tomo pelaku sejarah, tokoh 10 November pernah berkata, " Andaikata tidak ada kalimat takbir, saya tidak tau bagaiamana menggerakan putra-putri terbaik bangsa untuk bangkit melawan penjajah" Ketika kalimat Allahu Akbar berkumandang, semangat juang terus menggelora, dan musuh terasa kecil.

Kita simak kalimat takbir, Laa ilaaha illallahu wahda. "Tiada Tuhan selain Allah, Dia Esa". Shodaqo Wa'dah "Maha Menepati janji-Nya". Wanashoro 'Abdah " Maha menolong Hamba-Nya" Disinilah melonjaknya semangat berjuang kita dengan berkeyakinan kepada Allah, bahwa Allah maha menolong hamba-Nya, dengan menepati janji-janji-Nya. Puasa sebulan penuh kita berhasil melaluinya, semua itu adalah berkat pertolongan Allah kepada kita untuk mengahdapi musuh yang terbesar dan tidak tampak oleh mata, yaitu nafsu. Kalau musuh tampak didepan mata seperti perang Badar yang terjadi pada jaman nabi, perang itu adalah perang yang kecil dan belum seberapa dibanding perang yang akan kita hadapi nanti, kata nabi, yaitu perang melawan hawa nafsu.

Dibulan puasa melawan hawa nafsu bukan berarti menghilangkan nafsu, akan tetapi kita diperintahkan mengendalikan, menempatkan pada tempatnya. Jika manusia tanpa nafsu maka dia bukan manusia, tapi manusia yang di kendalikan oleh nafsu, maka ia turun jadi binatang dan bahkan lebih rendah dari binatang. Logikanya, tidak ada kerbau yang terlalu buas hawa nafsunya lalu berubah dari pemakan rumput menjadi pemakan roti, tetapi jika manusia terlalu buas dan dikendalikan oleh hawa nafsunya maka yang dimakanya bukan hanya nasi saja, melainkan " Aspal, Semen, Kertas dan Minumnya Solar ". Maka demikian jauh lebih buas daripada binatang. Itulah puasa, mengendalikan hawa nafsu dari yang berlebihan.

Pembaca Yang Budiman..!

3. Maa Hadaakum " Yang telah memberikah Hidayahnya kepadamu" Hidayah yang hanya hak priogratif Allah. Tidak semua orang diberikan hidayah oleh Allah, kita perhatikan dalam sejarah para nabi, anak nabi Nuh, Istri nabi Luth, ayah nabi Ibrahim, paman Nabi Muhammad Abu Lahab, Abu Jahal. Dan masih banyak contoh-contoh lainya yang mereka tidak diberi hidayah oleh Allah. maka sudah wajib kita syukuri akan nikmat hidayah yang diberikan Allah kepada kita, yang kita bukan anak nabi, cucu nabi, apa lagi kemanakan nabi.

Kita ingat kembali sejarah Kan'an anak nabi Nuh, yang durhaka, Nabi Nuh sendiri hidup 950 tahun, berdakwah semasa hidupnya sampai 800 tahun lamanya, akan tetapi pengikutnya hanya 80 orang, yang rata-rata 10 tahun hanya mendapat satu pengikut. Begitulah perjuangan Nabi Nuh untuk memperjuangkan ummatnya. Namun disuatu hari Nuh mengadu kepada Allah bahwa Ia sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan da'wahnya dan memohon agar diturunkan adzab kepada kaumnya yang ingkar. Maka Allah memerintahkan kepada Nuh untuk membuat kapal. Demikianpun terus Nuh semakin mendapat ejekan dan cemohan dari kaumnya dan mengatakan bahwa Nuh sudah gila. Setelah selesai kapal yang buat oleh Nuh, maka Allah memerintahkan Nuh untuk membawa pengikutnya dan sepasang serba sepasang binatang. Kemudian Allah tenggelamkan bumi hingga Kan'an lenyap ditelan banjir. Hidayah Allah tidak turun kepadanya serta pengiktunya. Maka syukurilah nikmat hidayah yg diberikan Allah kepada kita.

4. Wala'allakum Tasykurun " Supaya kamu bersyukur ". Dengan menyempurnakan bilangan puasa, mengagungkan nama Allah ( Takbiran ), diberi-Nya kita Hidayah. Semua ini diperintahkan Allah dan diberikan kepada kita adalah denga tujuan kita menjadi orang-orang yang menang, beruntung, dan agar kita bersyukur atas semuanya. Mensyukuri nikmat Allah adalah kewajiban kita, sebab dengan bersyukur maka Allah akan menambah nikmatnya kepada kita, dan jika kita ingkar, kufur atas nikmat Allah, maka adzab Allah lah yang ada pada diri kita. Na'udzubillah tsumma na'udzubillahi min dzalik…

Orang kaya bisa masuk surga karna hartanya, akan tetapi orang kaya juga bisa masuk neraka karna hartanya. Tergantung syukur atau tidak syukur. Pejabat bisa masuk surga karna jabatanya, akan tetapi pejabat bisa masuk neraka karna jabatanya. Tergantung syukur atau tidak syukurnya. Begitu juga seorang 'Alim, bisa masuk surga karna ilmunya, akan tetapi seorang 'alim bisa masuk neraka karna ilmunya. Tergantung syukur atau tidak syukurnya dia dalam mengimplemtasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kehidupan bermasyarakat.

Maka sambutlah hari kemenangan ( Idul Fitri ) itu denga hati yang gembira, seraya bersyukur kepada Allah, semoga kita menjadi orang-orang yang pandai bersyukur. amiin Wassalam.

SEMANGAT RAMADHAN


Terbit pada Buletin KUKERTA, Jum'at ke 3 Ramdhan, Kp.Surau Kab. Dharmasraya.

Suatu ketika, seorang alim diundang berburu. Sang alim hanya dipinjami kuda yang lambat oleh Tuan rumah. Tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Semua kuda dipacu dengan cepatnya agar segera kembali ke rumah. Tapi kuda sang alim berjalan lambat. Sang alim kemudian melepas bajunya, melipat dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah. Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda yang mereka tunggangi lebih cepat.

Dengan perasaan heran, Tuan rumah bertanya kepada sang alim, "Mengapa bajumu tetap kering?" "Masalahnya kamu berpikiran hanya pada kuda, bukan pada baju," jawab sang alim ringan sambil berlalu meninggalkan Tuan rumah.
Dalam perjalanan hidup, kadangkala kita mengalami kesalahan berpikir (persepsi) seperti Tuan rumah dalam cerita di atas. Kita menginginkan sesuatu namun tidak memilik tujuan seperti yang diinginkan, sehingga akhirnya kita tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
Begitu pula dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang menginginkan ibadahnya di bulan Ramadhan dapat merubah dirinya menjadi lebih baik. Namun setelah Ramadhan, ternyata sifat dan perilakunya kembali seperti semula. Ia hanya mendapatkan lapar dan haus. Persis seperti yang disabdakan Nabi saw, "Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa pun, kecuali lapar dan haus."

Hal itu karena tujuannya keliru. Ia tidak tahu hikmah di balik keagungan bulan Ramadhan. Salah satu dari sekian banyak hikmah Ramadhan yang sering dilupakan orang adalah fungsinya sebagai pembangkit semangat hidup. Ramadhan sesungguhnya adalah bulan motivasi/semangat (syahrul hamasah).
Coba kita lihat apa yang terjadi pada diri nenek moyang kita (para sahabat dan ulama sholihin) setelah ditempa Ramadhan. Mereka menjadikan Ramadhan sebagai ajang pembakaran semangat yang membara. Beberapa contoh bisa disebutkan di sini. Ibnu Jarir, misalnya, mampu menulis 14 halaman dalam sehari selama 72 tahun. Ibnu Taymiyah menulis 200 buku sepanjang hidupnya. Imam Ghazali adalah peneliti di bidang tasawuf, politik, ekonomi dan budaya sekaligus. Al-Alusi mengajar 24 pelajaran dalam sehari. Sedang Jabir bin Abdullah rela menempuh perjalanan selama satu bulan demi mendapatkan satu riwayat hadits. Fatimah binti Syafi'i pernah menggantikan lampu penerangan untuk ayahnya (Imam Syafi'i) sebanyak 70 kali.
Semangat mereka terangkum dalam perkataan Abu Musa Al-Asy'ari ra.yang pernah ditanya oleh sahabatnya, "Mengapa Anda tidak pernah mengistirahatkan diri Anda?" Abu Musa menjawab, "Itu tidak mungkin, sesungguhnya yang akan menang adalah kuda pacuan!" Suatu ungkapan indah yang menggambarkan semangat yang membara, jiwa yang selalu ingin berkompetisi, berani dan pantang menyerah.

Semangat Itu Ada di Depan Kita
Semangat nenek moyang kita yang luar biasa dalam beramal tak bisa dilepaskan dari tujuan mereka yang benar terhadap fungsi ibadah dalam Islam, termasuk fungsi ibadah Ramadhan sebagai ajang peningkatan motivasi (achievement motivation training). Beda dengan kebanyakan kaum muslimin saat ini yang lebih memahami ibadah Ramadhan sebagai kegiatan seremonial dan tradisi tanpa makna.

Beberapa bukti yang menunjukkan fungsi Ramadhan sebagai bulan pemotivasian adalah:

1. Shaum (puasa)
Tahukah Anda bahwa kekuatan semangat dapat mengalahkan kekuatan fisik? Itulah yang Allah latih kepada kita di bulan Ramadhan. Selama sebulan kita dilatih untuk mengalahkan nafsu yang berasal dari tubuh kasar kita, nafsu makan, minum, dan seksual. Kenyataannya, di bulan Ramadhan kita mampu mengalahkan tarikan nafsu demi memenangkan semangat ruh kita.
Sayangnya, latihan itu tidak dilanjutkan dalam kehidupan yang lebih luas dan dalam waktu yang lebih lama setelah Ramadhan, sehingga banyak di antara kita yang hidupnya tidak bersemangat dan besungguh-sungguh dalam beramal. Itulah yang kita lihat pada diri Abdullah bin Ummi Maktum RA yang matanya buta tapi ngotot untuk ikut berperang bersama Rasulullah. Juga pada diri Cut Nyak Dien atau Jenderal Sudirman, yang pantang menyerah kepada pasukan kolonial walau dalam kondisi sakit parah.

2. Tarawih
Ramadhan sebagai syahrul hamasah juga terlihat dalam pelaksanaan sholat tarawih. Hikmah dari ibadah tarawih yang dilakukan dengan santai dan tidak terburu-buru adalah untuk membentuk watak kesabaran dan ketekunan. Kita tahu, kesabaran dan ketekunan adalah kunci dari motivasi. Tidak mungkin seseorang itu termotivasi dan produktif berkarya tanpa memiliki sifat sabar dan tekun.

Watak inilah yang dimiliki oleh nenek moyang kita, sehingga mereka menjadi umat yang jaya di masa lalu.
Hal ini berbeda dengan pelaksanaan sholat tarawih di masa kini. Di mana waktunya tidak lebih dari 1-2 jam. Bahkan seringkali dilakukan tergesa-gesa. Hikmah tarawih sebagai ibadah yang melatih watak kesabaran dan ketekunan menjadi hilang, sehingga lenyap pulalah salah satu sarana pelatihan umat Islam untuk menjadi orang yang termotivasi hidupnya.

3. I'tikaf
Sarana lain yang disediakan Allah SWT untuk membentuk ruh semangat adalah i'tikaf. Ibadah i'tikaf berarti diam menyepi (untuk mengingat Allah) dan meninggalkan kesibukan duniawi. Bagi laki-laki, i'tikaf dilakukan di masjid. Sedang bagi perempuan dilakukan pada ruangan khusus di rumahnya.
Nabi Muhammad saw tidak pernah meninggalkan ibadah i'tikaf ini sepanjang hidupnya. Hal ini juga dilakukan oleh para sahabat dan orang-orang sholih sepeninggal beliau. Sudah menjadi hal yang lazim di masa nenek moyang kita bahwa setiap Ramadhan masjid penuh dengan orang-orang yang i'tikaf.

Bandingkan dengan kondisi sekarang. I'tikaf menjadi ibadah yang asing bagi kebanyakan kaum muslimin. Padahal ibadah ini sangat penting untuk muhasabah diri. Dalam i'tikaf, kita melakukan uzlah (pertapaan) sebagai modal penting untuk bangkit dari keterpurukan. Nabi Muhammad SAW berubah dari manusia biasa menjadi manusia luar biasa (nabi) setelah uzlah ke Gua Hiro. Lalu Allah menggantikan sarana uzlah tersebut dengan i'tikaf untuk kita. Agar kita meniru perubahan menjadi manusia luar biasa tersebut seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. Amin

RAHASIA PUASA



Oleh ; Charles Mangunsong
Terbit pada Buletin Jum'at ke 2 Ramadhan-Kp.Surau Dharmasraya

Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan yang mulia pada tahun ini merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita. Betapa tidak, dengan menunaikan ibadah Ramadhan, amat banyak keuntungan yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.

a.Menguatkan Jiwa.

Dalam hidup hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi.

Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya yang artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya ( QS 45:23 ).

Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, …..

Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka yaitu : orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).

b.Mendidik Kemauan.

Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar.

Karena itu, Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

c.Menyehatkan Badan.

Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

d.. Mengenal Nilai Kenikmatan.

Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.

Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air.

Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil.

Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS 14:7)

.e.Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain.

Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak, Palestina dan sebagainya.

Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS 9:103).