Senin, 25 Juni 2012

POKOK-POKOK PIKIRAN TANWIR MUHAMMADIYAH 2012

Padang, 26 Juni 2012
Disalin dari Website Pimpinan Pusat Muhammadiyah. di- www.muhammadiyah.or.id


POKOK-POKOK PIKIRAN TANWIR MUHAMMADIYAH 2012
“UNTUK PENCERAHAN DAN SOLUSI PERMASALAHAN BANGSA”

Muhammadiyah merupakan bagian tak terpisahkan dari komponen bangsa. Oleh karena itu, Muhammadiyah sangat peduli atas tegaknya kedaulatan negara dan keutuhan bangsa yang nampaknya semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan menjadi negara yang demokratis, berkemakmuran, berkeadilan, berkemajuan, dan bermartabat. Sehubungan dengan hal-hal tersebut, Tanwir Muhammadiyah Bandung menyatakan pokok-pokok pikiran sebagai berikut: 

1. Dasar Negara Pancasila
Pancasila merupakan rahmat Allah untuk bangsa Indonesia sebagai dasar untuk memajukan dan membangun Indonesia yang merdeka dan berkemajuan. Pancasila bukan agama, tetapi substansinya mengandung dan sejalan dengan nilai-nilai Islam. Namun, nilai-nilai Pancasila belum diimplementasikan secara sungguh-sungguh dalam penyelenggaraan negara dan bermasyarakat. Hal ini antara lain terlihat dari: maraknya praktek-praktek korupsi, banalisasi friksi-friksi dalam masyarakat, belum terwujudnya pemerataan atas hasil pembangunan nasional, serta tingginya angka kemiskinan. Maka, Muhammadiyah menegaskan sikap dan pandangan bahwa Pancasila merupakan konsensus nasional terbaik untuk bangsa yang majemuk untuk mencapai cita-cita nasional yang harus diisi dengan persaingan secara sehat (fastabiqul khairat). Indonesia yang berdasarkan Pancasila merupakan negara perjanjian atau kesepakatan (Darul ‘Ahdi), negara kesaksian atau pembuktian (Darus Syahadah), dan negara yang aman dan damai (Darussalam). Dengan demikian, diperlukan institusionalisasi dan substansialisasi atas nilainilai
Pancasila yang terbuka dan dinamis dalam berbangsa dan bernegara.

2. Kedaulatan Bangsa dan Negara
Muhammadiyah melihat gejala dan fakta melemahnya kedaulatan bangsa dan negara dalam bidang ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Terdapat gejala dimana kekayaan dan kedaulatan ekonomi dikuasai oleh kepentingan asing, sehingga, bangsa Indonesia yang memproklamasikan kemerdekaannya 1945 masih mengalami masalah kedaulatan yang sangat serius. Pertama, dalam bidang ekonomi ditandai dengan adanya perundang-undangan tentang eksplorasi dan pemanfaatan sumber daya alam yang lebih menguntungkan kepentingan asing dan sejumlah komprador dalam negeri, bukan untuk kepentingan masyarakat dan bangsa Indonesia. Kedua. dalam bidang politik, tampak begitu kompromistis, tidak melihat adanya independensi negara dalam membuat kebijakan yang memihak kepentingan umum. Ketiga, ada gejala dimana penegakan hukum dipengaruhi oleh kepentingan dan kekuatan asing serta kompradornya di dalam negeri. Keempat, dalam bidang budaya ditandai oleh melemahnya watak dan karakter bangsa, serta rasa rendah diri dalam menghadapi globalisasi dan rentannya rasa percaya diri terhadap budaya dari luar. Muhammadiyah mendesak semua pihak, khususnya pemerintah selaku pemangku amanat rakyat agar melakukan langkah-langkah konkrit untuk menyelamatkan dan menegakkan kedaulatan bangsa dan negara. Pemerintah harus menegakkan kedaulatan ekonomi dengan mengembangkan ekonomi konstitusional dengan melindungi dan memberdayakan ekonomi nasional yang berpihak kepada rakyat dan bebas dari dominasi dan eksploitasi asing dan kompradornya di dalam negeri, baik dalam bidang produksi, distribusi, yang didukung oleh kemandirian dalam pembiayaan pembangunan nasional.

Dalam bidang politik, Muhammadiyah mendesak penyelenggara negara, khususnya pemerintah dan DPR untuk mencabut dan/atau merevisi produk perundang-undangan yang mengancam kedaulatan negara dan mencegah adanya produk/rumusan hukum dan perundangan-undangan baru yang tidak memihak kepada kedaulatan bangsa dan negara. Dalam bidang hukum, Muhammadiyah mendesak Pemerintah dan aparat hukum untuk hukum secara adil, mandiri, dan bebas dari tekanan dan intervensi pihak manapun. Dalam bidang budaya, Muhammadiyah mendesak kepada semua pihak, khususnya pemerintah untuk mengarusutamakan pendidikan karakter dan mengembangkan strategi kebudayaan nasional yang mengedepankan kemandirian, jati diri, dan harga diri bangsa.

3. Kriteria Kepemimpinan Bangsa
Salah satu pangkal permasalahan bangsa adalah kepemimpinan, dan saat ini bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan. Muhammadiyah melihat kepemimpinan bangsa yang ada selama ini sering absen ketika diperlukan, lamban, bimbang dan galau dalam mengambil keputusan, dan korup. Hal ini disebabkan antara lain oleh perilaku politik transaksional, penggunaan uang dalam mengejar jabatan, dan kegagalan partai politik dalam melakukan perkaderan dan rekrutmen pemimpin bangsa. Lemahnya kepemimpinan nasional ini berakibat pada buruknya kualitas sumberdaya manusia sebagaimana terindikasi dari peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dikeluarkan oleh PBB. Apalagi, Indeks Negara Gagal 2012 semakin menegaskan bahwa Indonesia menjadi sangat beresiko untuk menjadi negara gagal (failed state). Muhammadiyah memandang perlunya langkah-langkah penyelamatan bangsa melalui penguatan kepemimpinan. Untuk itu, bangsa Indonesia memerlukan pemimpin yang
memenuhi kriteria, antara lain :

- Visioner, yaitu memiliki visi yang sesuai dengan cita-cita nasional para pendiri bangsa.
- Nasionalis-Humanis, yaitu komitmen kebangsaan yang kuat dan kemanusiaan yang luhur. 
- Solidarity Maker, yaitu kemampuan membangun solidaritas bangsa yang majemuk. 
- Risk Taker, yaitu berani mengambil resiko. 
- Decisive, yaitu kemampuan mengambil keputusan yang cepat, tepat, dan tegas. 
- Morally Committed, yaitu integritas moral yang tinggi sehingga tidak menyalahgunakan kekuasaan dan tidak 
  korup.

4. Partisipasi Masyarakat
Partisipasi masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan bangsa adalah sebuah keniscayaan. Sepanjang sejarah bangsa Indonesia masyarakat berperan secara sentral dalam merebut, mempertahan, dan mengisi kemerdekaan. Masyarakat berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan, kesejahteraan, kesehatan, dan kemajuan bangsa. Sikap pemerintah yang tidak mengakui, mengakomodasi apalagi membatasi dan menghalangi partisipasi masyarakat madani, tidak hanya mencerminkan arogansi kekuasaan, tetapi juga merugikan bangsa dan negara termasuk pemerintah sendiri. Oleh karena itu Muhammadiyah mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan dan menafikan partisipasi organisasi masyarakat madani. Pemerintah juga diminta untuk merevisi perundang-undangan yang membatasi dan menghalangi partisipasi masyarakat seperti Undang-Undang tentang Rumah Sakit, dan Undang-Undang tentang Gerakan Pramuka. Muhammadiyah mengajak seluruh kekuatan masyarakat madani untuk bekerjasama dan berhati-hati terhadap berbagai usaha pemecah-belahan.

5. Otonomi Daerah dan Integrasi Nasional
Otonomi daerah yang dikembangkan selama ini telah mampu memberdayakan masyarakat dan pemerintahan di daerah. Tetapi Otonomi Daerah yang berbasis pemerintah kabupaten/kota dengan kewenangan yang tidak memperhatikan karakteristik dan kemampuan daerah telah melahirkan jumlah daerah otonom yang terlalu banyak, menimbulkan masalah koordinasi perencanaan dan pelaksanaan pemerintahan, inefisiensi anggaran, distorsi kebijakan, serta primordialisme dan egoisme kedaerahan. Membiarkan keadaan ini terus berlangsung akan beresiko mempertajam konflik sosial dan politik yang mengancam integrasi bangsa. Muhammadiyah mengusulkan dilakukannya pengkajian ulang terhadap design sistem otonomi daerah demi integrasi nasional dan kepentingan bangsa yang lebih besar, dan mengkaji ulang perundang-undangan yang berkaitan dengan otonomi daerah secara keseluruhan. Dalam hal ini Muhammadiyah berpandangan bahwa otonomi daerah sebaiknya dititikberatkan pada tingkat provinsi, dengan pembagian kewenangan daerah sesuai kekhususan, karakteristik sejarah, budaya, politik, dan kemampuan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia.

6. Kekerasan Massa
Muhammadiyah sangat prihatin dengan meningkatnya tindak kekerasan yang terjadi di masyarakat. Dipergunakannya cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan, tidak hanya menimbulkan ketakutan massa yang meluas, ketidakstabilan ekonomi dan politik, permusuhan sesama warga masyarakat, serta ancaman terhadap kemajemukan bangsa. Meningkatnya kekerasan antara lain disebabkan oleh lemahnya penegakan hukum, kegagalan negara dalam mengelola sektor keamanan termasuk di dalamnya, pembiaran negara atas penguasaan alat dan cara-cara kekerasan oleh masyarakat, kesenjangan sosial, dan ketidakadilan. Muhammadiyah mendesak dihentikannya cara-cara kekerasan oleh masyarakat, dan penyalahgunaan kekerasan oleh aparat keamanan. Negara harus melindungi masyarakat, memperkuat kinerja aparat keamanan, menegakkan hukum dan tertib sosial. Selain itu perlu memperkuat pendidikan kewargaan dan menghidupkan kembali tradisi kerukunan dan perdamaian masyarakat.

Bandung, 04 Sya’ban 1433 H
                                                                                                                                       24     Juni  2012 M

Pimpinan Pusat Muhammadiyah
                                     Ketua Umum,                                                  Sekretaris Umum,

                Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A                         Dr. H. Agung Danarto, M.Ag.
                               NBM. 563653                                                            NBM. 608658

Kamis, 14 Juni 2012

Inna Lillahi Wainna Ilaihi Roji’un (Resiko Perantau Jauh)

Masih segar dalam ingatanku peristiwa meninggalnya kakak ku dan adikku beberapa tahun lalu, dan kini Allah memanggil kembali abangku yang sangat kucintai.
Tahun 2009 lalu, di tengah keheningan malam, dalam suasana ronda malam di komplek perumahan Bunda Permai, Kota Padang. Sekitar pukul 01:30. Terdengar suara deringan Hanphon di saku celanaku. Ketika kulihat, ternyata panggilan dari kampung yang menyampaikan bahwa kakakku meninggal dirumah karena melahirkan anak peratamanya. Alangkah terkejutnya rasanya hatiku. akupun mulai bergegas pulang kerumah orangtua angkatku, dan menyampaikan kabar itu kapadanya. Larut malampun membuat langkahku menjadi pendek, dan tak tau ingin berbuat apa. akhirnya kuputuskan untuk pulang selepas shalat subuh. disamping itu akupun sering menelpon ke kampung untuk mengetahui keadaan dirumah.

Jam menunjukkan pukul 06;00 aku baru dapat mobil ke bukit tinggi, dan disana aku mencari mobil tujuan medan, hingga aku ditawarkan travel tujuan medan dengan harga tiket 2 kali lipat harga biasanya, 270.000,-. aku tebus tiket itu dengan harapan tiba di kampung tepat waktu. Nnamun menit, berlalu dan berjam-jam ku tunggu keberangkatan mobil itu hingga pukul 11;00, tapi tidak berangkat juga. besar kali sesal hatiku oleh karena ulah penjual tiket travel itu. Karenmerasa kecewa, dan tak mungkin lagi dapat mengejar waktu untuk bertemu dengan Almarhum, akhirnya aku mengadu ke petugas SLJA untuk meminta uangku kembali. Puas kurasakan ulah-ulah penjual tiket travel itu. akhirnya aku memutuskan untuk mencari mobil lain, tetapi hingga pukul 13;00 aku tak menemukannya. hingga kuputuskan untuk istirahat dan baru berangkat esok harinya dari kota bukit tinggi. Jauh terasa perjalanku, hingga aku sampai di kampung halaman pada hari ke tiga setelah meninggalnya kakak ku. Hanya bekas bongkahan dan timbunan tanah yang dapat kulihat di balakang rumahku, dan berserah diri kepada Allah.

Kabar Baru dan Tak Ingin Terulang,-

Berselang lebih kurang 9 bulan kemudian, tahun 2010. Tak terpikir apapun dan terkenang sedikitpun soal adik ku, GUNAWAN (21), yang sedang bekerja di sebuah PT.Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Palalawan, Riau. Usai shalat Isya, lagi aku menerima telpon dari kampung dan mengabarkan Adikku meninggal karena kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Palalawan, Riau..Masya Allah, Innalillahi. terkejut lagi hatiku tidak karuan. Mengingat masa 9 bulan lalu, jika aku pulang dengan mobil, pasti aku tidak akan bisa bertemu dengan adik ku. akhirnya aku putuskan untuk pulang dengan sepeda motor dan segera mencari rental. tapi ternyata adikku (adik angkat di padang) meminjamkan sepeda motornya. Hujan yang mengguyur membuat keberangkatanku ke kampung tertunda hingga 2 jam. Setelah hujan reda, pukul 22;00 akupun meluncur dengan ditemani sahabatku Aliamsah Ritonga, dengan cuaca yang dingin dan tubuh yang berbalut jaket tebal, kami meluncur munuju Kampung Halaman. Puas perjalanan yang ku lalui, hingga aku  sering tertidur dalam keadaan mengendarai sepeda motor. Hingga kuputuskan untuk istirahat dan tidur kurang lebih 40 menit untuk menghilangkan rasa kantuk.

Pukul 03;30 dini hari kami kembali melanjutkan perjalanan dari Sontang, Kabupaten Pasaman Barat. Harap-harap cepat sampai dengan kecepatan sepeda motor sesanggupnya. hingga sekitar pukul 12; 30 siang aku sampai di rumah, tangisku tak tertahan lagi ketika melihat ada keramaian di rumahku yang terpasang di depannya tenda biru. Cepat aku menuju kedalam rumah, dan yang kulihat adikku yang sudah terbaring dengan kain kafan yang membalut tubuhnya. Ya Allah….Ampunkan segala dosanya, kataku dalam hati sambil menangis. Sedih kurasakan tak terhingga. Hanya beberapa menit kemudian setelah keadiranku, akhirnya ayahku dan para pelayat meminta izin kepadaku untuk membawa Almarhum adikku ke pemakaman. Ku angkat tubuhnya dan kuletakkan di atas kerenda yang sudah disiapkan. Ku papah kerenda itu hinggga kepemakaman yang hanya beberapa meter di belakang rumahku. Tepat di samping Kuburan kakak ku sudah tergali Liang lahat, dan aku turun untuk menyambut dan meletakkan nya di liang lahat. Ku bacakan do’a untuknya agar dia ditempatkan di sisi Allah deng sebaik-baiknya.

dan Kini….!

dan kini,,Telpon itu datang lagi. Sehabis shalat Isya aku baca-baca buku hingga Pukul 21;00. setelah itu aku tidur terbangun 15 menit sebelum shalat subuh. setelah shalat subuh, aku kembali baca-baca buku dan tidak melihat hanpdhonku yang terletak di atas meja. Sedang Asyik membaca buku, tiba-tiba datang temanku yang tinggal tidak berapa jauh dari tempat tinggalku di Kota Padang. Katanya dengan tergesa-gesa “Bang, Meninggal abangmu, ada menelpon tadi, tapi gak tau aku namanya, ini sms nya ada” Sentak aku terkejut melihat sms nya yang berbunyi “Bah, pulanglah, Bah Udin Sudah Meninggal“  Terkejut rasanya baca SMS itu dan melihatpengirim nomor baru. Rasa-rasa tak percaya, seperti SMS permainan. Ku coba untuk memastikan dengan menelpon nomor tersebut, dan ternyata itu adalah nomor adikku Fizer. Innalillahi Wainnailahi roji’uun……..

Remuk asanya hatiku. Kembali Abangku meninggal karena kecelakaan di Jl.Lintas Sumatera, Marbau-rantau Prapat pukul 21:00 WIB. Tak lama berselang datang dua orang teman ku yang juga memberikan kabar yang sama. Akupun bertanya, mengapa kabar itu sampai ke teman-temanku. Setelah ku cek Hanphonku, ternyata ada puluhan panggilan yang tak terjawab mulai pukul 01:00 hingga subuh tiba. Baru kusadarai, bahwa Hanphonku dalam keadaan Silent, sesal kurasakan oleeh karenanya. Dengan pikir-pikir panjang, tak mungkin rasanya   bisa mengejar untuk pulang dengan mengendarai motor, yang waktu tersisa hanya kurang lebih 6 jam. Mengingat aku juga dalam keadaan agenda Ujian Konfri, persiapan wisuda. Akhirnya hingga pukul 9 telah kuputuskan tidak pulang dan mengikhlaskannya. Akan tetapi perasaan tidak tenang, dan terus terbayang-bayang wajahnya. Hingga pukul 10;00 akhirya hatiku kembali kuat untuk pulang. lantas meminta izin kepada pihak Kampus untuk ditunda jadwal ujian confre ku. Pukul 12;30 aku cek in di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) untuk keberangkatan pukul 14;10. Jam per jam terus berlalu hingga pukul 13;30. tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa keberangkatan Pesawat tujuan medan di tunda hingga 2 jam. Kesal lagi hatiku. aku Konplain hingga petugas-petugas itu tampak ketakutan dan mengadukan aku ke atasannya. akhirnya aku tetap sabar menunggu kedatangan pesawat itu. Tepat Pukul 16;30 akhirnya aku berangkat juga dan tiba di medan pukul 17;15.

Di tunggu oleh temanku yang berada di Medan, dan beberapa menit kemudian akupun langsung menuju loket Bus dengan menaiki becak motor. Pukul 20;00 akhirnya Bus itu meluncur menuju Rantau Prapat. hingga aku tiba di simpang Marbau Pukul 02:00 dini hari. Kemudian aku tetap disitu menunggu Abangku yang Nomor satu, ( Juhari ) datang dari arah Jambi. Setibanya abangku di Simpang Marbau, kamipun bersama-sama pulang kerumah dengan keadaan suasana dingin karena terpaan hujan, di tambah kegundahan hati karena kembalinya ke rahmatullah saudara kandung tercinta.

Hingga di depoan rumah, kulihat teratak terpasang, dan melihat dari sisi jendela ramai orang yang tidur di ruangan tamu. Aku masuk dari pintu samping dan langsung menemui Ibu dan memeluknya. Isak tangis ibu tak tahan kurasa, begitu juga Ayahku. ..

Begitu senyap, sepi suasana malam itu, satu per satu saudara-saudara yang tadinya tertidur semuanya terbangun dan bercerita tentang perjalanku, dan abangku dari Jambi, begitu juga Abangku dari Malaisya yang tiba pukul 21;00/bebepara jam lalu.

Hanya tinggal nama, dan bayang-bayang wajahnya yang ada di rumah itu, dahulu masih sering berkumpul, tapi kini sudah tiada lagi. Begitulah perjalanan hidup ini, tanpa terasa, yang ada menjadi tidak ada.  dan kitapun semua akan kembali kepada Allah SWT.

Alangkah sedih rasanya kehilangan orang-orang yang paling kita cintai. sedihnya rasa hati ku ini, Tapi aku yakin, bahwa semua  ini adalah ujian dari Allah SWT. ketika aku tidak bisa bertemu untuk terakhir kalinya dengan kakak ku dan abangku, begitu juga adikku yang hanya aku tatap wajahnya beberapa menit saja. Memang inilah resiko orang yang merantau, apapun yang terjadi dirumah, sangat sulit untuk bisa cepat pulang karena jarak ku yang cukup jauh dari kampung.

Di Kota Padang inilah ku rasakan pahitnya menjadi seorang perantau, hingga aku tak bisa melihat wajahnya untuk terakhir kalinya, dan menggantar Jenazah Abang dan Kakak ku ke tempat peristirahatan terakhirnya di bumi ini.

Kepadamu, Abangku Saripuddin bin Asnawi, Kakakku Yusnani Binti Asnawi, Adikku Gunawan Bin Asnawi.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

Ya Allah, Ampunilah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempat-kanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim 2/663)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا. اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيْمَانِ، اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ.

“Ya Allah! Ampunilah kepada orang yang hidup di antara kami dan yang mati, orang yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir ,laki-laki maupun perempuan. Ya Allah! Orang yang Engkau hidupkan di antara kami, hidupkan dengan memegang ajaran Islam, dan orang yang Engkau matikan di antara kami, maka matikan dengan memegang keimanan. Ya Allah! Jangan menghalangi kami untuk tidak memper-oleh pahalanya dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya.” ( HR. Ibnu Majah 1/480, Ahmad 2/368, dan lihat Shahih Ibnu Majah 1/251)

اَللَّهُمَّ “Gunawan, Saripuddin, Yusnani Bin Asnawi”   فِيْ ذِمَّتِكَ، وَحَبْلِ جِوَارِكَ، فَقِهِ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَأَنْتَ أَهْلُ الْوَفَاءِ وَالْحَقِّ. فَاغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

“Ya, Allah! Sesungguhnya Gunawan, Saripuddin, Yusnani Bin Asnawi dalam tanggunganMu dan tali perlindunganMu. Peliharalah dia dari fitnah kubur dan siksa Neraka. Engkau adalah Maha Setia dan Maha Benar. Ampunilah dan belas kasihanilah dia. Sesungguhnya Engkau, Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.” (HR. Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah 1/251 dan Abu Dawud 3/21)

اَللَّهُمَّ عَبْدُكَ وَابْنُ أَمْتِكَ احْتَاجَ إِلَى رَحْمَتِكَ، وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ، إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِيْ حَسَنَاتِهِ، وَإِنْ كَانَ مُسِيْئًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ.

Ya, Allah, ini hambaMu, anak ham-baMu perempuan (Hawa), membutuh-kan rahmatMu, sedang Engkau tidak membutuhkan untuk menyiksanya, jika ia berbuat baik tambahkanlah dalam amalan baiknya, dan jika dia orang yang salah, lewatkanlah dari kesalahan-nya. (HR. Al-Hakim. Menurut pendapatnya: Hadits ter-sebut adalah shahih. Adz-Dzahabi menyetujuinya 1/359, dan lihat Ahkamul Jana’iz oleh Al-Albani, halaman 125)

Seni Dalam Islam (Muhammad Juga Seniman)

Padang, 10 Juni 2012
Oleh : Laskar Charles Al Marbawy

Eemmmm...Karena kesibukan di akhir-akhir kuliah, mempersiapkan ini dan itunya, sampai-sampai teman terbaikku (blog's) sampai terlupakan hingga lebih sebulan..Tapi Alhamdulillah sekarang daku sudah bisa bercengkrama lagi dengannya....
 
Soooo.....Topik kali ini insya Allah akan menuliskan selayang pandang tentang seni menurut padangan Islam. dikutip dari Ceramah di sebuah stasiun Televisi Republik Indonesia, pada tanggal 7 Mei 2012, Ba'da Shalat Subuh. Kalau tidak salah  Nama Muballighnya Prof.Dr.H Nasaruddin Umar MA, Rektor di salahsatu perguruan tinggi Islam di Jakarta.

Pertanyaan yang mendasar soal Seni yang dilontarkan oleh pembawa acara kepada Profesor pada saat itu adalah,  Seni seperti apa yang dibolehkan dalam Islam, dan Apakah musik kekinian sesuai dengan karakter Islam? 

Sambil tersenyum sang Profesor dan dengan nada rendah pasti beliau berkata, Muhammad bukanlah seorang figur yang kerjannya dari mesjid ke masjid, atau berda'wah terus-menerus keluar dan masuk kota. ditengah-tengah kesibukannya sebagai penyampai risalah Allah, Ia juga sebagai seorang penggemar seni. atau lebih tepatnya bahwa "Muhammad Juga Seniman". Di dalam praktek kehidupannya, Rasulallah pernah mengundang seniman dari Habbasa untuk datang ke Masjid, dan bahkan kerumah Rasulallah. Tiba-tiba pada saat itu datang Abu Bakar dan terkejut melihanya,  kemudian memanggil seniman itu dan bertanya pada seniman itu,....! Wahai Seniman, mengapa engkau berani masuk dan bernyayi di rumah rasulallah....? Tanya Abu Bakar. Belum sempat terjawab oleh seniman tersebut, kemudian Rasulallah datang dan berkata "Biarkan dia, Karena hari ini Hari Idul Fitri" (1)

Praktek lainnya dikatakan oleh Muballgh itu adalah, bahwa kalau ada saudagar datang dari luar, maka dia akan disambut dengan musik, termasuk juga acara walimahan, kemudian ketika Rasullah  Hijrah juga disambut dengan shalwat badar........(2)

Hal yang tak kalah pentingnya adalah ketika Bilal Bin Rabah dilantik sebagai seorang Mu'azzin. Rasulallah sangat memujinya kalau itu kala suara Bilal yang sangat merdu, selain itu juga disyaratkannya Imam /diupayakannya Imam yang memiliki suara merdu, yang mampu menyentuh batin para jama'ahnya dan dapat menambah kekhusyukan ketika shalat.....

Dalam Siarh Nabawiyyah, bahkan Imam Al Ghazali membuat khusus sendiri yang mengupas soal ini, yaitu BAB SENI. Kesimpulan umum dari bab itu adalah bahwa orang-orang yang tidak memiliki seni, hatinya akan keras. Seni akan bisa melenbutkan hati yang kasar, dan dapat mendekatkan diri kepada Allah, dan disatu sisi juga dijelaskan bahwa seni juga dapat menjauhkan kita dari Allah SWT. Na'udzubilllah. Jadi sepanjang seni itu mampu untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka itu juga baik untuk kita. 

Satu Peristiwa penting lagi, bahwa tatkala seseorang yang bernama Rukanah yang sombong, dan mengatakan tidak akan ada orang yang mampu mengalahkannya. Ketika itu juga Rasulallah naik ke gelanggang, HIngga ronde ke tiga pukula Rasulallah mendarat ke pipi Rukhana, dan tidak bangkit lagi. Hal ini menggambarkan bahwa Seni (musik/olahraga atletik) sudah ada dimasa Rasulallah dan bahkan "tangan"nya sendiri.(3).

Diakhir tulisan ini saya ingin jelaskan sekali lagi kepada pembaca sekalian, bahwa artikel ini adalah kesimpulan/resume dari yang saya dengar disalahsatu stasiun televisi, dan tentunya dalam penulisan isi dan rangkaian kata-katanya pasti tidaklah sama dengan yang aslinya. Kemudian di akhir-akhir paragraf di atas ada diakhiri dengan angka-angka. berikut penjelasannya.
(1). Kalimat Inti "Rasullah memanggil seniman (penyanyi) ke Masjid dan kerumah Rasulalla ketika Idul Fitri"...Untuk hal ini saya memang belum membaca buku, atau haidts tentang hal itu.Apakah berita itu benar atau salah,..Kemudian untuk yang ke (2), Kalimat inti "Kedatangan saudagar disambut dengan musik, Walimahan dengan juga dengan musik", juga demikian, saya belum membaca atau menemukan dalil tentang hal itu. dan terakhir yang ke (3), Kalimat inti " Rasulallah turun ke gelanggang dan bermain gulat dengan Rukhana hingga tiga ronde". Hal ini juga masih saya ragukan, apkah kata-kata di perhalus, ataukah memang begitu kenyataannya.. Hanya Allah yang tau. semoga Allah akan terus menurukan Ilmunya ke permukaan bumi ini, dan semoga kita termasuk orang-orang yang menerima Ilmu Allah tersebut..amiin...
Wasslam ..
laskarcharles.wordpress.com
laskarcharles.blogspot.com